Sunday, 12 September 2010

Akulah Angin Engkaulah Api


Jangan percaya padaku,
sebab aku menderu
memburu
tak tertandingi waktu

Akulah yang meliukkan seribu pohonan,
memporandakan kluster-kluster bintang
menumbangkan benih yang baru berkecambah

Aku berjalan lebih cepat dari lari kereta
Aku makan lebih banyak dari titan yang diungsikan ke alam kegelapan
Aku menyerap batu
Aku menghembus Asap
Aku melebar tanpa kelihatan
Aku menyepoi membelai rambut perawan
Menidurkannya dalam lelap dan membangunkannya dengan tamparan

Jelaga malam retak ketika aku tanpa permisi datang menghentak
Lautan gemuruh, padahal aku hanya melambai
Dan ikan saling menuduh, mereka bilang,
cepat lari, sebentar lagi ada badai!

Namun Engkau Api
Ketika kuhembus engkau semakin besar
saat ku biarkan engkau mengecil sendirian

Karena Engkau Api,
Menyala saat terang
gemerlapan ketika malam
Tapi Engkau akan selalu sendirian.

Namun engkau api
Selesap asap semerona bara
Sekerlip kena sekulit luka
Namun saat menyesap, hangat kau gurat
Seumpama korek,
kau bahkan mau berada di ujungnya,
memercik cahaya pada pentulnya

Kaulah kobar paradoks untuk kehidupan,
Energi netral yang mampu meliuk positif atau tertahan menjelma
kejahatan.

Akulah Angin Engkaulah Api
Maka kita bisa saja berpelukan

(source : Jalaludin Arrumi)

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution